andinavika:

Halo teman2 @fimnews punya program baru bernama “Disko” : Diskusi Online
Apaan sih? Diskusi tematik yang mewawancarai 2-3 orang pembicara/sesi melalui google hangout on air. Siapapun bisa nonton secara live via diskologi.tumblr.com
Yuk follow akun twitternya : @diskologi dan nantikan dalam waktu dekat Disko Vol 1 dengan tema : “Beasiswa Luar Negeri Bukanlah mimpi”
Salam, Tim @diskologi

(y) #1000PhDuntukIndonesia

andinavika:

Halo teman2
@fimnews punya program baru bernama “Disko” : Diskusi Online

Apaan sih?
Diskusi tematik yang mewawancarai 2-3 orang pembicara/sesi melalui google hangout on air. Siapapun bisa nonton secara live via diskologi.tumblr.com

Yuk follow akun twitternya : @diskologi dan nantikan dalam waktu dekat Disko Vol 1 dengan tema : “Beasiswa Luar Negeri Bukanlah mimpi”

Salam,
Tim @diskologi

(y) #1000PhDuntukIndonesia

(via ilmaalya)

8 hari jadi kepala rumah tangga

Cerita bermula saat saya diamanahkan jagain adik sepupu yang ditinggal orangtuanya umrah. Siang ini orangtuanya akan kembali. Oh ya, kami bertiga, ada nenek sepupu yang bantuin ngatur keperluan domestik. Sedikit renungan 8 hari jagain rumah…

1) Saya belum bisa menang dengan si adik. Maksudnya saya belum bisa bikin semacam kontrak gitu ke adik saya. Kemungkinannya karena bargaining power yang lemah (statusnya numpang di rumah tante), kita yang kurang dekat—atau saya yang selalu sangat baik ke dia—, atau karena saya tidak menggalakkan kontrak itu dari awal. Kerasa banget saya tidak konsisten karena akhirnya mengalah dengan si adik karena gak enak hati bikin doi sedih atau marah. Lemah…. Haha.

2) Saya masih mikirin diri sendiri. Seringkali pulang malam, padahal nenek nungguin. Nenek harus tetap terjaga sampai saya pulang soalnya pintu dan pagar kudu digembok kalau malam, dan gada kunci serep. Pernah sekali nenek yang sudah tidur harus kebangun lagi untuk bukain pintu. Saya juga beberapa malam ansos di lantai dua, ngebiarin adik dan nenek nonton berdua saja di bawah. >.<

3) Saya cuma bisa kasih sayang yang murah. Saya orangnya baru bisa baik dan perhatian gitu pada tataran yang rendah, misalnya nganterin sekolah, beliin jus, atau nanyain ada PR gak. Tapi kalau soal menaklukkan si adik belum bisa dan masih ogah buat bantuin tugas domestik nenek, misalnya nyuci piring yang menumpuk habis masak.

Terbayang sedikit apa kabar keluarga yang saya akan pimpin nanti ya…  *halah* jika kepala rumah tangganya belum bisa menaklukkan anggota rumah tangga, jika saya belum bisa jadi partner yang responsif, jika saya masih mikirin diri sendiri, jika saya tidak punya cukup waktu untuk mereka karena saya masih belum selesai dengan urusan saya sendiri dan buruknya manajemen waktu saya???

Perbaikan diri musti dicicil segera.

Syukur dapat pengalaman jadi the only man in the family selama 9 hari ini (y)

Sistem yang Langgeng Harus Dibikin Gusar

Disclaimer: ini tulisan dangkal tanpa riset mendalam melainkan pengolahan sedikit pengalaman dan pengetahuan. Tulisan ini buat kamu orang di luar “sistem”.

*

Sistem adalah fokus perhatian seorang pengamat. Ada sistem, ada lingkungan, kalau di dunia termodinamika. Jika diketahui kalor mengalir dari sistem ke lingkungan, berarti kalor internal dan juga suhu sistem menurun. *sedikit nostalgia pelajaran fisika SMA jurusan IPA kelas 2 semester 2*

Sistem juga berarti sebuah kepaduan yang telah terbentuk. Sistem adalah sesuatu yang sudah jadi, ada, dan dipakai. Misalnya, sistem pendidikan, sistem pencalonan anggota legislatif, pencalonan pasangan calon ketua dan wakil ketua BEM, sistem kaderisasi, dan sebagainya. Dalam sistem terdapat aturan. Dalam aturan, tidak selalu terdapat reward, tapi pasti ada sanksi.

"Di luar sistem" bisa diartikan tidak berada atau menolak untuk "berada" di dalam sistem. Berada di dalam sistem, berarti mengikuti aturan main dalam sistem. Berada di luar sistem, berarti siap-siap tidak "dianggap" oleh sistem. Berada di dalam sistem, berarti siap didukung dan juga ditekan sistem. Berada di luar sistem, berarti bebas, berjuang (sendiri) tanpa sekat.

Dalam sebuah hegemoni *izinkan saya menggunakan kosakata ini*, di mana sebuah kelompok berterusan menjadi pemimpin di sebuah negara, daerah, kampus, atau organisasi, berlangsunglah sebuah sistem yang sulit dituding salah atau tidak optimal. Keberlangsungan kepemimpinan yang lama telah menggeser sebuah tingkat pemakluman atas performa sang pemimpin. Apatah lagi, pemimpin ini banyak pendukungnya dan terlihat bekerja.

Lihatlah kepemimpinan Soeharto… Saya rasa di era 80an, mayoritas rakyat Indonesia menikmati program pemerintah seperti swasembada beras. Jutaan PNS dan ABRI hidup makmur. Orang-orang tua buru-buru menyekolahkan anak meraka agar menjadi amtenaar atau tentara, biar ada kepastian finansial. Tidak heran jika pemeo “isih enakeun jamanku toh?” masih bisa ditertawakan. Di sisi lain, kita tidak tahu betapa “tidak efisien”nya perangkat kepemimpinan Soeharto. Baru setelah kita keluar dari kepemimpinan utopis itu, kita bisa melihat masih banyak kurangnya Soeharto and the gang di masa lalu.

Mengambil pelajaran dari kisah Zaman Soeharto tadi, saya berharap, orang-orang yang berada di luar sistem—dalam hal ini kampus—bisa berjuang mengeluarkan teman-temannya dari hegemoni yang pasti akan terus lestari bila tidak disaingi.

Mari, kita keluarkan diri kita dan kawan-kawan kita dari hegemoni yang ada. Tarik mundur dirimu selangkah untuk melihat lebih arif. Pemecahan rantai hegemoni harus dimulai, karena kita semua ingin keoptimalan yang riil, bukan yang relatif.

Salah satu kekurangan sistem yang langgeng adalah keterbatasan domain orang yang bisa dilibatkan. Dalam sistem ini, maka ada aturan kaderisasi. Cuma orang “lama” yang boleh berkuasa, melanjutkan cita-cita kelompok the incumbent. Padahal cita-cita mereka belum tentu (masih) sama dengan semua. Jika diibaratkan sebuah partai incumbent, cuma kader yang boleh maju jadi perwakilan. Sedangkan, orang-orang luar yang (lebih) baik sulit untuk maju karena sistem menghalangi mereka. Sistem yang established sudah menanamkan pagar yang tidak bisa dilewati orang luar. Dan hal yang terburuk saat keadaan tidak menawarkan pilihan kedua, kritisi cederung mati.

Warga dan rakyat harus diberikan pilihan kedua dan ketiga. Kalau cuma ada satu pilihan, berarti yang akan ada hanya golongan pro atau yang kontra (apatis). Ini kelemahan sistem calon tunggal. Katakanlah calon A menang dengan 55 persen suara, melewati syarat kemenangan. Tapi, ada indikasi 45% yang lain menolak dan tidak siap berpartisipasi. Makin banyak yang apatis. Jangan senang jika menang pas-pasan! Maka dari itu, teman-teman yang ada di luar sistem—karena menolak masuk atau ditolak—harus menawarkan PILIHAN KEDUA. Terutama buat kalian yang peduli, yang merasa tidak puas dengan kinerja “sistem”. Ketidakpuasan harus dilawan, karena kita hidup cuma satu kali.

Apa kita mau menceritakan kepasrahan kita pada keadaan ke anak-cucu kita nanti? Dimana semangat juang yang digadang-gadang saat ospeg? Dimana semangat juang yang kita telan bulat-bulat di rumah-rumah kita dulu?

Pada akhirnya cuma orang waras DAN peduli DAN sudah selesai dengan dirinya yang punya waktu untuk hal sekunder ini: kemaslahatan bersama. Tugas mendobrak hegemoni ini harus dimulai sekarang, tapi secara bijak. Apatah lagi kita yang sudah tahu koreng sistem yang ada… Semua yang kita tahu akan diminta pertanggungjawabannya.

Menolak hegemoni dengan bijak maksudnya pandai-pandai memosisikan diri. Sistem punya aturan. Sistem juga punya waktu untuk dievaluasi: sekali setahun jika di kampus dan lima kali setahun untuk Pemilu. Ada saatnya, kita, orang-orang luar, berhimpun untuk menjadi oposisi. Ada saatnya, kita, orang-orang luar, berhimpun untuk menjadi tandingan di pemilihan raya.

Sebelum masa pemilihan, jadilah oposisi yang cerdas dimana kritisi kita SELALU berdasarkan data dan perbandingan yang valid. Sentil “sistem” dengan wacana, diskusi publik, dan gerakan alternatif. Bikin mereka gusar. Mereka harus tahu, bahwa sistem mereka masih banyak lobangnya.

Saat masa pemilihan, inilah saat adu gagasan. Massa “partai” alternatif, boleh jadi belum besar. Tapi, di zaman ini, loyalitas bisa dikalahkan dengan akal sehat. Ini jamannya jualan ide, Bung! Siapkan amunisi untuk berperang di ruang publik. Cari simpati dengan cantik! Bagaimanapun, bila “sistem lama” membuka diri, tidak salahnya dipertimbangkan untuk masuk. Mulailah dengan audiensi. Karena koalisi bukan berarti kompromi.

Jika pada akhirnya “partai” kita kalah dukungan. Terimalah. Coba lagi tahun depan, atau lima tahun lagi. Berarti kita punya waktu untuk mematangkan persiapan, amunisi, dan penerus cita-cita kita… orang di luar sistem.

Sekali lagi, jika terbuka kesempatan masuk sistem, maka pertimbangkanlah… Boleh jadi dalam tawaran tersebut ada kesamaan visi dan keinginan orang sistem untuk memperbaiki diri. Boleh jadi juga ada peluang untuk membuka koreng hegemoni ini agar cepat kering, ha ha ha.

Poin lebih dari berada dalam sistem adalah adanya support system yang sudah jadi. Kekurangannya, gerak agak diarahkan. Poin lebih berada di luar sistem adalah lebih bebas. Tapi, PR besarnya adalah bagaimana membuat supporting system dan thinktank sendiri yang siap menemani kita menjalankan amanah jika ide kita terjual nanti.

Akhir kata, hegemoni tidak buruk tapi sistem yang langgeng harus dibikin gusarJangan-jangan banyak dari kita yang sudah apatis karena cuma ada satu opsi. Jangan-jangan akal sehat kita sudah mati—tidak bisa lagi mengkritisi keadaan.

Tags: politik kampus

fotokoran:

Memenang Indonesia oleh Rektor Paramadina.
(Sumber: Kompas)
*sayang baru sekarang masuk Kompasnya, Pak. Wacana memenangkan Indonesia ini harusnya dimulai sebelum Pileg kemarin :)

Orang baik harus terus &#8220;dikirim&#8221; ke dunia politik 5 tahun sekali&#8230; (y)

fotokoran:

Memenang Indonesia oleh Rektor Paramadina.

(Sumber: Kompas)

*sayang baru sekarang masuk Kompasnya, Pak. Wacana memenangkan Indonesia ini harusnya dimulai sebelum Pileg kemarin :)

Orang baik harus terus “dikirim” ke dunia politik 5 tahun sekali… (y)

(via syofarahalimah)

Counting Stars - OneRepublic

Lately, I’ve been, I’ve been losing sleep

Dreaming about the things that we could be

But baby, I’ve been, I’ve been praying hard,

Said, no more counting dollars

We’ll be counting stars, yeah we’ll be counting stars

I see this life like a swinging vine

Swing my heart across the line

And my face is flashing signs

Seek it out and you shall find

Old, but I’m not that old

Young, but I’m not that bold

I don’t think the world is sold

I’m just doing what we’re told

I feel something so right

Doing the wrong thing

I feel something so wrong

Doing the right thing

I could lie, couldn’t I, could lie

Everything that kills me makes me feel alive

Lately, I’ve been, I’ve been losing sleep

Dreaming about the things that we could be

Lately, I’ve been, I’ve been praying hard,

Said, no more counting dollars

We’ll be, we’ll be counting stars

I feel the love and I feel it burn

Down this river, every turn

Hope is a four-letter word

Make that money, watch it burn

Old, but I’m not that old

Young, but I’m not that bold

I don’t think the world is sold

I’m just doing what we’re told

I feel something so wrong

Doing the right thing

I could lie, could lie, could lie

Everything that drowns me makes me wanna fly

Lately, I’ve been, I’ve been losing sleep

Dreaming about the things that we could be

But baby, I’ve been, I’ve been praying hard,

Said, no more counting dollars

We’ll be counting stars

Take that money

Watch it burn

Sink in the river

The lessons are learnt

Everything that kills me makes feel alive

Tags: lyric life

"Mediocrity should not be tolerated for things that matter to you."

— M. Al Atiqi

Galau, Swing Voters, dan Berdoalah Sebelum Kita Tidur

Saiki kulo nek nulisi pikiranku sing rada seriusanArepe, yo nengkene ojo galauan kabeh. *jawafail

#skip

CAUTION! Bukan hak Anda menghakimi saya GALAU. Suka-suka saya dong! Kecuali Anda teman saya, sahabat saya, atau anggota keluarga saya… Nah! Kalau iya, baru Anda punya hak ngata-ngatain saya begini-begitu. Eh, Anda juga teman saya ding. #plak

True friends let you sip superbitter truth so you wake up.

So, kalau temanmu terlihat/terbaca galau, ingatkan dia: hidup harus dinikmati & diambil hikmahnya saja. Kalau temanmu terlihat/terbaca mengumbar perasaan, ingatkan dia: endapkan perasaanmu dan jangan bergerak berlandaskan ragu. #apasih

Next, ceritanya saya mau mengulas sedikit tentang capres. Ini bukan tulisan standar. Percaya deh. Karena tulisan ini belum masuk media, jadi tidak ada standar baku untuk tulisan ini… Gak perlu ngikutin kemauan editor #pffft :D

Pertama, sosok Jokowi… Siapa yang tidak kenal beliau? *pertanyaan ini absurd* Siapa yang tinggal di Jakarta dan tidak kenal beliau? *pertanyaannya mendingan* Siapa yang tinggal di Jakarta dan Solo dan sudah aqil baligh yang tidak kenal beliau? Teu aya, insyaallaah. Beliau teh orangna alus… Bageur pisan!! #maksainSunda

(Masa sih?)

Karir Jokowi sebagai aparat daerah cukup memukau apalagi setelah dipoles oleh media. Pancaran dari kayak-intan yang ada di keseharian Jokowi dalam mengemban tugas berpendar sampai ke tempat-tempat yang jauh. The power of media! Hmm, apakah pada Pak Joko Widodo benar-benar terdapat intan—bukan kayak-intan (diamond-like stuff)—yang kita cari? Oh ya, kita belum mendefinisikan intan yang kita harapkan ada dalam diri calon pemimpin bangsa ini. Ada yang mau usul? Intan yang kita impikan ini bisa jadi kombinasi jujur, bersahaja, meritokratis, kharisma, konsisten, merdeka, logis, dan adil. #imo

Saya tidak melihat intan yang saya cari pada diri Jokowi. Beliau disinyalir panas-panas tahi kerbau. Beberapa gebrakan tidak terus dipantau sampai tahap akhir dan pemeliharaan. Kalau bahasa teman saya, “gagal memelihara semangat”. Terlalu banyak ide, terlalu bersemangat di awal, membuat diri sendiri keder. Jadinyamediocre in many traits deh, nyentuh semua tapi ga memuaskan. Bagaimanapun, saya sepenuhnya tidak bisa menyalahkan Jokowi jika kontrol dari beliau kurang kuat. Karena toh beliau bekerja dalam sebuah sistem, di sana juga ada Ahok. Hmm, apparently, we can’t fully blame the president of a non-dictatorship country. Enjoy! :D

Kinerja Jokowi sangat memukau sebagian warga, terutama warga miskin. (Walau ada yang bingik, bilang itu pencitraan lah… apa lah….) Bagaimanapun, ketika kita bahas pencitraan, kita harus nunjukin bukti. Apa beda pencitraan dan kebenaran? Pencitraan punya unsur topeng. Kalau kebenaran itu sesuatu hal yang baik dan benar adanya, baik diekspos atau tidak. Setahu saya Pak Jokowi itu oke banget dengan program kartu pintarnya. *saya cuma tahu itu* Gimana dengan kemacetan Tanah Abang, perbaikan/pelebaran jalan-jalan kota, pemindahan warga langganan banjir, dst? Saya kurang tahu euy. Katanya sih, Jokowi-Ahok belum bisa menjadi sekeping koin yang dicintai warganya.

Jokowi sebagai capres… hmm, saya menyangsikan beliau akan bisa mewakili bangsa ini. Terlepas dari nilai TOEFL beliau dan latar belakang pendidikan beliau, saya melihat PR beliau masih banyak sampai mengerti benar masalah negeri ini (luar-dalam). Beliau sejauh ini baru mahir dalam hal internal daerah. Urusan diplomasi eksternal… Hmm, mungkin beliau butuh pengalaman dulu. Kalau mau, capres yang diusung oleh PDIP ini diback-up dengan sosok yang tegas dan pintar untuk urusan eksternal negara. We are not living in this World alone. Countries are inter-dependent.

Mencari tahu sosok Jokowi, yang muncul adalah kabar gembira di mana beliau selalu terdengar berpihak pada rakyat kecil, punya waktu untuk audiensi ke desa/kelurahan, dsb.. Beliau oke deh soal begituan. Nah, tapi 2 tahun jadi gubernur DKI Jakarta belum cukup. Setidaknya masa jabatan 5 tahun ini diselesaikan dulu. Setelah 5 tahun, baru cukup substansi kita menilai Jokowi layak jadi presiden atau tidak. Sing sabar, Om! Hehe.

Saya tidak bilang bahwa capres muda belum layak memiliki istana negara untuk lima tahun ke depan. Mungkin Pak Jokowi belum terasa manfaatnya di saya. #subjektif 

Kalau Anies Baswedan? Hmm, sama-sama masih hijau, tapi orasi dan pengalamannya lebih oke. Mungkin NEGARA ini belum butuh presiden seperti Jokowi. Tapi, di tingkat KOTA, semacam beliau dibutuhkan sekali. Selera karakter pemimpin idaman boleh beda-beda kan ya?

*seruput kopi dulu*

Kemudian ada Om Prabowo… Saya cuma melihat beliau punya masa yang cukup kuat. Beliau niaaaat banget bergerak di kampung-kampung yang sepi untuk nyari masa, membantu ngisi perut para petani. Oh, mimpi negeri agraris… *padahal lebih pas kalau disebut negara maritim* Intinya, Om Bowo pintar nyari masa. Mereka yang butuh dibantu. Om Bowo sudah berhasil membeli suara mereka dengan perhatiannya.

Kemudian ada Papa Ical. Doi nggak menjual, man… Nggak jago orasi, pernah berulah di Sidoarjo dan bikin rakyat Indonesia naik pitam. Tidak ideal sebenarnya buat diangkat sebagai ketua umum partai sekelas Golkar. Masih banyak kader Golkar yang lebih oke! Papa Ical dipilih cuma karena duitnya lebih lah. #sotoy Golkar itu autopilot tahu… Suara belasan persen itu dari para PNS yang berterima kasih untuk beras bulanan, angsuran rumah petak, kredit kendaraan, dsb., bukan murni karena ideologi/visi partainya. Sebagiannya lagi, karena beberapa kader Golkar memang kece—terlepas siapa capres yang diusung partai ini—contohnya teh Nurul Arifin. #eh

Saya melihat dukungan ke para capres adalah karena dua macam motif: loyalitas—yang didasari keberterimakasihan—dan harapan. Bowo dan Joko dapat suara dari kombinasi keduanya. Kalau Ical murni loyalitas. Eh ada yang ketiga ding: selera pasar! Di sini, yang dimaksud selera pasar adalah khusus untuk swing voters

Menarik membahas swing voters (SV), karena jumlahnya banyak—bisa lebih dari 30% (sumbernya… #plak). SV itu milih partai/capres suka-suka. Bukan karena loyalitas yang mapan dan ideologi. They choose because they feel like to, on that special Election Day.

Suara swing voters sangat mudah menguap (very volatile). Maksudnya, dengan sedikit informasi yang mereka rasa valid, keberpihakan bisa dengan mudah berganti arah. Kebanyakan sih swing voters ini teman-teman yang baru lolos dari jerat golongan putih, tapi belum punya waktu/tidak memprioritaskan waktunya untuk benar-benar mencari tahu pemimpin mana yang mau meraka pilih di laman menu Pemilu.

Swing voters are shallow voters.

Nah, saya ingin mempengaruhi kalian, para pembaca, yang keberpihakannya masih belum jelas, masih bingung, masih belum punya parameter penilaian calon pemimpin. Haha… Jokowi alone, Prabowo alone, or ARB alone… TIDAK ADA YANG SREG DI SAYA. Saya butuh figur lain… Mahfud kek… JK kek… Hehe. Dahlan Iskan sama Anies sudah oke, tapi kudu supporting system yang ciamik.

Menilik suara swing voters yang mudah terpengaruhi, kita semua punya kesempatan untuk membentu opini publik lewat sosial media. Sekecil apapun usahamu mempengaruhi khalayak, pasti ada yang termakan oleh mereka, setidaknya sampai level alam sadar. (Bagus bisa sampai alam bawah sadar….)

Oh ya, sekarang kan lagi masa masang-masangin partai (koalisi). Tidak semua koalisi akan menambah keterpilihan, karena koalisi bisa jadi malah meniadakan (destruktif) sifatnya. Kemungkinan terindahnya adalah melipatkangandakan (konstruktif). Misalnya, 12% + 9% = 39%. Nah, masang-masangin capres dan cawapres kudu pinter, jangan sampai yang ada hanya koalisi destruktif. *oh ya, petinggi partai mana yang akan membaca tulisan saya ini??? XD

Koalisi… Sudah bukan karena ideologi dan cita-cita suci lagi. Karena suci sudah diambil para komik *mikir* Partai-partai Islam sibuk berebut cari induk semang. Pragmatis! Tidak percaya diri untuk bersatu. Mungkin Jokowi itu semacam Da*jal yang memporakporandakan akal sehat. Kita jadi lupa tujuan baik kita. (Kita? Lo aja keleus…) Kita jadi goyah karena keterpukauan mahadahsyat kita pada sosok beliau.

Jangan ngefans segitunya, nanti kamu kecewa segitunya.

By the way, Nasdem kece loh… Partai baru sudah dapat segitu… Hanura aja kalah! Menurut saya, rekrutmen calegnya lebih pintar di Nasdem. Pak Surya Paloh pandai cari orang. Kalau SP jadi cawapres? Gue nggak bakal pilih tapi. Gue nggak tahu dengan brewoknya doi bisa ngapain untuk negeri ini.

Panjang juga cuap-cuap kali ini. Kalau lo nguap pas melihat titik ini . Tidurlah!

Berdoalah sebelum kita tidur~

Jangan lupa doakanlah bangsamu~

Jangan lupa doakan negeri kita tercinta~ 

"Maybe you are not that special. But, the story is gonna be different if it were not you. So, make a good story!"

Terusir di Tanah Sendiri

Tanahku kujuali

Habis kubagi-bagi

Aku tidak punya ilmu mengolah uang

Kini tersisa aku si pembuat arang

Demi mesik arang, harus kubenci hujan

Kupunya banyak anak

Kukira mereka bisa dimintai tolong

Susahnya keluarga baru mereka tidak lebih baik dari susah keluargaku

Keluarga-keluarga baru yang sudah kubiayai perhelatan dan kucukupkan awalannya 

Anak mereka butuh susu, bubur bayi, dan uang sekolah

Aku kira aku bisa jadi pegawai di sana setelah kujual tanahku untuk pabrik garmen mereka

Mereka malah mengimpor tenaga kerja dari luar Karawang

Akupun tak bisa berbuat apa

Aku hanya bisa berharap hujan jarang turun

Aku bermimpi anak-anak dulu aku sekolahkan sampai lulus

Biar sedikit asal menjadi

*

Depok, Maret 2014 (terinspirasi dari sebuah artikel di Kompas)

Tags: puisi