• X: Akhirnya...
  • Z: Kenapa begitu lama?
  • X: Kamu menunggu?
  • Z: ...
  • X: Buat apa?
  • Z: Supaya kamu tahu.
  • X: Maksudnya?
  • Z: Aku bisa saja tidak bilang, "Kenapa begitu lama?" Kamu tidak harus tahu apakah aku menunggu atau tidak. Tapi, aku ingin kamu tahu.
"Ibuku berkata; Jika nanti kamu jadi seorang ibu, kamu tidak boleh berpikiran negatif tentang anak kamu, sungguh tak boleh. Karena apa yang dipikirkan seorang Ibu terhadap anaknya adalah sebuah do’a."

— (via catatanbesarku)

(Source: jalansaja, via catatanbesarku)

"Mungkin ikhlas itu adalah saat kita benar-benar berhenti bertanya ‘mengapa’."

— (via licooys)

(Source: alfaroqiah, via catatanbesarku)

"Ide-ide meletup dan mengembang seperti pesta kembang api, indah dan pasti habis nyalanya. Ayo segera ditulis sebelum dia padam."

Mau bantu publikasi offline blog ini di kotamu?

Kamu mau membantu?

jurusankuliah:

Halo semua!

Untuk meningkatkan jumlah anak SMA dan sederajat tahu tentang blog ini, kami telah memulai publikasi offline ke SMA, MA, dan SMK di beberapa kota seperti Malang, Sragen, Jember, dan Balikpapan. Publikasi ini dilakukan berdasarkan keinginan pribadi dan kesukarelawanan. Poster bisa dicetak A3 atau menyesuaikan, dan didistribusikan ke sekolah-sekolah, tempat gaul para putih abu-abu, dan tempat-tempat bimbel. One poster at one place is enough :)

Bagi yang tertarik, bisa menuliskan alamat emailmu dan kota/kabupaten tempat kamu akan menyebarkan poster ini di ‘reply’ di bawah/dengan fitur comment. Gunanya apa?

Alamat email.. kami akan mengirimkan soft copy poster resolusi tinggi khusus publikasi offline.

Nama kota/kabupaten.. agar teman-teman yang menyahut di postingan ini bisa saling berkoordinasi jika kebetulan berdomisili di kota/kabupaten yang sama.

Setiap kunjungan ke sekolah jangan lupa ambil foto ya, hehe. Biar bisa dimuat di blog ini. Foto bisa dikirimkan ke galaujurusan@yahoo.com atau dengan twitpic mention @galaujurusan :)

Let’s make this become a big movement (9^_^)9

#105 Ilmu Komunikasi: Pernah dengar Kajian Media?

Ini cerita Rona Mentari tentang jurusannya dan kisah galaunya ;)

jurusankuliah:

Penyiaran/Broadcasting? Humas/Public relations? Periklanan/Advertising?

Buat kamu yang sudah jadiin “ilmu komunikasi” dan sejenisnya sebagai jurusan pertimbangan untuk kuliah, pasti sudah nggak asing lagi dengan peminatan-peminatan yang disebutkan diatas. Kalau kamu masuk jurusan ilmu komunikasi, nanti di (biasanya) semester tiga, akan ada peminatan yang harus dipilih. Ada macam-macam nih peminatannya. Beberapa yang sudah populer seperti broadcasting, advertising, dan public relations.

Eh, tapi tunggu dulu. Ilmu komunikasi tak sesempit tiga peminatan di atas. Pernah denger istilah kajian media atau media studies sebelumnya? Nah, jika sudah, berarti kamu beruntung! Jika belum, berarti kamu lebih beruntung! Karena aku akan sedikit jelaskan untukmu :D

Peminatan ini hanya ditawarkan sedikit kampus di Indonesia. Konon, yang benar-benar bernama kajian media hanya ada di dua kampus, Universitas Paramadina dan Universitas Indonesia. Dulu, sebelum aku masuk peminatan keren ini, banyak yang bilang…

"Jangan masuk kamed (kajian media), ntar bikin paper terus….”

“Jangan masuk kamed, ntar disuruh baca banyak buku….”

“Jangan masuk kamed, yang milih sedikit….”

“Jangan masuk kamed, ntar jarang praktek, ga bisa bikin film kayak anak broadcasting!”

Itu adalah sebagian kalimat ‘jangan masuk kamed’ yang sempet singgah di telinga. Tapi, setelah menimbang kanan kiri, baik buruk, sholat istikhoroh, akhirnya saat itu pilihan peminatanku jatuh ke kajian media! 

Loh, kok bisa?

Adik-adikku calon mahasiswa, kita harus tahu betapa pentingnya media sekarang. Televisi, radio, koran, majalah, internet, komputer, handphone ada dimana-mana. Itu semua menjadi sumber informasi utama. Sekali lagi, sumber informasi utama! Betapa mudahnya, sebuah opini publik dibentuk media. Karena sumber informasi publiknya adalah media! Ibaratnya, sekarang, pemenang bukan lagi yang paling pintar tetapi siapa yang memiliki lebih banyak informasi. 

Nah, lalu apa yang dipelajari kajian media? Melalui peminatan ini, kita akan belajar dari hulu ke hilir tentang media. Dengan begitu kita akan mengerti kerja media secara menyeluruh. Gimana produksi berita, latar belakang sebuah media, latar belakang sebuah berita, dan semacamnya. Belajar di kajian media bikin kita makin kritis dan peka untuk selalu cek dan ricek munculnya sebuah informasi di media.

Di sini memang kita belajar banyak teori. Hegel, Laswell, Foucalt, Bartess, Berger, dan masih banyak lainnya adalah nama-nama yang bakal sering kita dengar. Seru, saat tahu awal mula gimana sebuah teori mengemuka lewat mereka. 

Di kamed, kita juga jadi biasa nulis. Siapa takut? Kemampuan menulis ini yang harus kita punya. Apalagi kan ada skripsi nanti. Kita jadi biasa baca juga. Aku dan teman-teman kajian media bersyukur banget pernah diajar sama dosen yang menantang kita untuk baca artikel bahasa Inggris berpuluh-puluh halaman tiap minggunya dan bikin review. And we did it! Sejak itu, baca artikel bahasa Inggris dan nulis paper, lewat lah… :D Karena sudah biasa melakukan itu.

Nah, gimana dengan kalimat ini? Kita jawab yah…

"Jangan masuk kamed (kajian media), ntar nulis terus bikin paper terus…" —> Namanya juga mahasiswa. Bukan mahasiswa namanya kalo enggak bikin paper. Sekarang tinggal pilih, mau bikin paper yang bagus. Atau asal-asalan saja? Ada quotes bagus, “Menulislah, maka kau akan hidup di antara tinta-tinta buku jauh lebih lama dibanding umurmu.” :)

"Jangan masuk kamed, ntar disuruh baca banyak buku…” —> Wah, ini justru thanks God! :D 

"Jangan masuk kamed, yang milih sedikit!" —> Ini juga kesempatan! Berarti pesaing kita di bangku kerja nggak banyak. Karena kita spesial! Sudah kesaring saat pilih peminatan, hehe. Kita anti-mainstream! :D Oh iya, jangan kaget kalau nanti kamu diperebutkan ya… XD

"Jangan masuk kamed, ntar jarang praktek, ga bisa bikin film kayak anak broadcasting!” —> Kata siapa? Kalau hobi mah jalanin aja. Sebagai mahasiswi kamed, kakak pernah juara 1 lomba fotografi Kompas, pernah juga jadi nominator film terbaik dan terfavorit di Jogja Indie Film Festival :D 

Nah emang kakak mau jadi apa nanti? 

Kalau kakak, mau bikin media massa. Itu saja. Sederhana tapi ‘besar’. Finally, kini di tengah aktivitas kerjain skripsi, kakak mikir… milih peminatan kajian media/media studies adalah the best decision saat galau jurusan kuliah! :D

Pokoknya kamu jangan masuk kamed, kalau ga mau terima tantangan menarik sekaligus mengkayakan :D

(*)

Rona Mentari | @Ronamentari

Kajian Media, Komunikasi 2010, Universitas Paramadina

Hari Pisang!

Kenapa tiba-tiba judul grup berubah jadi ada ikon pisang ya? Hari masih pagi…

Oalah… Mba-Na-na toh! Sudah sore, sudah ramai yang ngucapin selamat. Alhamdulillah yang bersangkutan menyindir dengan kata “kreatif”. Jadi doa anak-anak ga salin-tempel. Saya kurang suka kalau doa cuma salin-tempel. Pelit amat sih buat nulis bentar untuk orang yang sudah membersamai kita?

Doa saya…

"Selamat Hari Pisang!!

Semoga yang sedang memperjuangkanmu segara bertamu ke hatimu *emot senyum Whatsapp*

Apalah arti hari ini. Kita bisa kapan saja membuat momentum untuk merapikan peta langkah ke depan dan mengokohkan pijakan.”

—> yang didoakan bingung, antara harus terharu atau nimpukin yang ngomong kayak di atas. Haha

Have a blast year ahead, Na! *lebih tua sih, tapi lagi pengen doi merasa muda, juga untuk mengurangi jarak… #lah

Di hape saya tersimpan nomernya dengan nama “Nana Hidayah Sunar”, biar tidak lupa nama aslinya, doa asli orangtuanya.

Semoga selalu dinaungi dan menjadi jalan hidayah kemanapun kamu melangkah ya :’)

*gak ada fotonya* *ga boleh juga*

Tadi kepoin goodreads-nya.

End.

Tags: random

"Segala yang dikerjakan setengah hati, tidak perlu diperjuangkan lagi."

— (via rarasekar)

"Kita hidup di dunia ini cuma untuk membuat kenangan-kenangan indah dan manis, dengan orang yang pernah kerja bareng kita, yang tumbuh bersama kita, dan orang-orang yang menghabiskan waktunya dengan kita. Iya, kita hidup di dunia ini cuma untuk bahagia, bahagia yang hakiki. Berlelah-lelah sejenak di dunia juga untuk bisa merayakan manisnya perjuangan, bukan? Oleh karena itu, mulai sekarang buatlah kenangan-kenangan indah dan manis tersebut, sebanyak-banyaknya, untuk bahan cerita saat kita bertemu kembali setelah mati—jika kamu percaya itu."
"Adults are outdated children"

— Dr. Seuss