rifkihidayat:

#busdondar with Alfatih – View on Path.

*ga punya Path heu..* Bantu share di Tumblr ya, semoga ikut menyebarkan kesuksesan inisiatif keren ini (y)

rifkihidayat:

#busdondar with Alfatih – View on Path.

*ga punya Path heu..* Bantu share di Tumblr ya, semoga ikut menyebarkan kesuksesan inisiatif keren ini (y)

"Kamu hebat, Dek. Kamu bisa menahan apa yang perlu. Kamu berkembang cepat menjadi insan yang tegas namun tetap bisa cair. Kamu juga terus mengambil kesempatan untuk menguji dan mengembangkan kapasitas dirimu. Dan aku masih mengamatimu dari jauh, walau makin jarang. Aku segan bertanya, kamu pun enggan bercerita. Tak apa, asal do’amu tak pernah putus untukku dan kita yang sedang berjuang di tempat-masing-masing."

Tags: random

Diingatkan Kembali

Kemarin sore (20.04.2014) saya diingatkan kembali betapa berharganya keluarga baru saya yang sudah sekitar dua tahun umurnya ini.

*

Impresi awal saat menyambut teman-teman FIM 10 yang bertandang ke kampus saya sekitar Juni 2011 adalah “wow keren!”. Pelatihan FIM 10 yang bertema wirausaha telah mengumpulkan banyak pemuda hebat calon “employer" di masa mendatang. Masih muda, sudah pandai melihat peluang dan memulai bisnis—dengan berbagai macam motif.

Saya pun diterima menjadi peserta pelatihan FIM 12. Hashtag yang digemakan adalah #manakarakter: sebuah sindiran pada keseharian Indonesia yang permisif. Karakter yang baik telah lama pudar, diabaikan, dan dinantikan “hidup”nya kembali. Karakter—yang pada dasarnya keimanan bahwa setiap perbuatan kita “dicatat”—sangat dibutuhkan di negeri ini. Di pelatihan ini juga, saya mendapatkan oleh-oleh kegalauan, yaitu proposal hidup—yang mendetil step dan jangka waktunya.

Pelatihan FIM sedikit-banyak telah menggetarkan, menggeser, dan lalu menguatkan pondasi visi saya. Ada banyak kebaikan dalam keluarga baru ini, terlebih setelah pelatihan usai. Pelatihan FIM 12 cuma gerbang segala kebaikan setelahnya.

1) saya bukan siapa-siapa

Sebuah impresi yang umum bagi yang baru bertemu seratus lebih pemuda terpilih dari ribuan pendaftar. Mengenal lingkaran-lingkaran kebaikan baru menyadarkan saya bahwa saya musti banyak belajar dan mempercepat apa yang saya cita-citakan. Saya ingin berlomba bersama mereka.

2) saya tidak sendiri

Sedikitnya pemberitaan akan hal-hal baik di negeri ini kala itu telah membuat banyak kepala yang pesimis dan cenderung tidak berempati pada kondisi riil negeri ini, termasuk kalangan pemudanya—penerima warisan kewajiban “melanjutkan” Indonesia. Setelah dipertemukan dalam forum—nama yang tepat sebagai tempat berkumpul bermacam “kepala” dan “tangan”—ini saya melihat banyak banyak percik api yang akan mengobarkan nyala Indonesia di masa mendatang. Saya tidak sendiri memelihara percik harapan yang saya miliki. Beberapa di antaranya sefrekuensi nyalanya dengan saya. Yeah!

3) visi forum ini jauh ke depan

Setelah pelatihan, kami (peserta FIM 12, para pendahulu, dan yang datang kemudian) sering berkumpul untuk alasan yang jarang serius, hehe. Ada beragam motif untuk berkumpul. Ada yang kangen, ada yang ingin “menumpahkan” ide dan kegundahan, ada yang ingin menyegarkan pikiran dari keseharian, dan juga yang datang sekadar jadi pendengar kabar. Ada beragam motif kumpul-kumpul akrab ala keluarga FIM. Walaupun santai, sekali waktu ada beberapa agenda yang (sangat) diseriuskan, semisal pelatihan FIM berikutnya dan aksi turun ke jalan. Lain dari itu, saya melihat FIM adalah rumah bagi pemuda-pemuda terpilih yang sudah punya “mainan” sendiri. Lalu teman-teman akan menanyakan, apa output pelatihan/forum ini?

Saya pribadi tidak melihat output (jangka pendek) yang diupayakan/dituntut oleh forum ini. Kalaupun ada, “output” itu adalah visi (jangka panjang): Indonesia yang lebih baik dengan pemuda-pemuda hebat (sesuai kompetensi masing-masing) dan berkarakter yang terhubung dalam sebuah jejaring kebaikan sehingga bisa saling mengingatkan. Forum ini meyadarkan pesertanya untuk sama-sama prihatin dan kenal Indonesia lebih baik, dan mempercepat kontribusi yang ingin diperbuat masing-masing peserta.

4) forum menyediakan kesempatan belajar yang luas

Menu utama kesempatan belajar yang saya maksud adalah kepanitiaan pelatihan FIM. Di dalamnya terdapat kegigihan, orientasi pelayanan terbaik, kepekaan, pemahaman holistik, pengembangan keahlian ekstra secara serius, dan tentu saja pembelajaran dari segala kemungkinan yang terjadi selama persiapan dan eksekusi, mulai dari pembentukan kepanitiaan sampai melengkapi LPJ. 

Selain menu utama di atas, ada banyak kesempatan untuk belajar dari teman-teman di forum ini. Karena tiap orang punya “berlian” yang selalu mereka bawa dan “poles”, tiap pertemuan adalah kesempatan untuk bertanya banyak hal. Dan setiap jawaban adalah pembelajaran. #tsaaah

Pilihan untuk menggarap ide bersama-sama adalah menu lain yang bisa disesuaikan menurut selera. Bekerja bersama orang hebat, berarti siap ditulari kehebatan.

Selain kesempatan belajar, tentu ada kesempatan “mengajar”: menularkan semangat dan kebaikan kepada teman-teman yang lebih “muda” :)

5) mengenal lebih banyak, menanggapi lebih arif

Terhubung ke banyak lingkaran pertemanan dan pemahaman, membuat anak FIM pada umumnya makin terbuka pikirannya dan lebih arif menanggapi sebuah isu. Soalnya, makin banyak teman yang bisa dijadikan acuan untuk cross-check. Kedekatan di forum ini tentu saja tidak hanya di tataran yang serius dan teknis, kedekatan perorangan antaralumni pelatihan FIM yang lebih personal juga menambahkan beberapa resep jitu ke buku kehidupan masing-masing. Pada dasarnya, setelah pelatihan jumlah teman-teman Indonesia saya meningkat drastis! 

*

Hmm, masih banyak hal dan contoh kejadian yang bisa diceritakan perihal kenalnya saya dengan keluarga baru ini. Tapi poin-poin pentingnya sudah tergambarkan di atas.

Banyak terima kasih saya ucapkan kepada keluarga besar The Elmirs, keluarga besar alumni FIM 12, FIM regional Singapura, Jakarta-Depok (Dejapu), dan teman-teman alumni FIM yang pernah bekerja bersama saya di kepanitian FIM (13, 14C, 14B, 15 dan khususnya on going FIM 16), grup diskusi online FIM Club, dan juga teman-teman yang pernah saya susahkan saat bertandang ke kota kalian :))

Semoga renungan jejak yang terukir di dua tahun ke belakangan—yang terpantik kemarin sore saat sharing dengan beberapa calon peserta terpilih FIM 16 asal DKI Jakarta—menjadi lecutan untuk terus berakselerasi dalam mengukir kebaikan.

Tags: FIM catatan

andinavika:

Halo teman2 @fimnews punya program baru bernama “Disko” : Diskusi Online
Apaan sih? Diskusi tematik yang mewawancarai 2-3 orang pembicara/sesi melalui google hangout on air. Siapapun bisa nonton secara live via diskologi.tumblr.com
Yuk follow akun twitternya : @diskologi dan nantikan dalam waktu dekat Disko Vol 1 dengan tema : “Beasiswa Luar Negeri Bukanlah mimpi”
Salam, Tim @diskologi

(y) #1000PhDuntukIndonesia

andinavika:

Halo teman2
@fimnews punya program baru bernama “Disko” : Diskusi Online

Apaan sih?
Diskusi tematik yang mewawancarai 2-3 orang pembicara/sesi melalui google hangout on air. Siapapun bisa nonton secara live via diskologi.tumblr.com

Yuk follow akun twitternya : @diskologi dan nantikan dalam waktu dekat Disko Vol 1 dengan tema : “Beasiswa Luar Negeri Bukanlah mimpi”

Salam,
Tim @diskologi

(y) #1000PhDuntukIndonesia

(via ilmaalya)

8 hari jadi kepala rumah tangga

Cerita bermula saat saya diamanahkan jagain adik sepupu yang ditinggal orangtuanya umrah. Siang ini orangtuanya akan kembali. Oh ya, kami bertiga, ada nenek sepupu yang bantuin ngatur keperluan domestik. Sedikit renungan 8 hari jagain rumah…

1) Saya belum bisa menang dengan si adik. Maksudnya saya belum bisa bikin semacam kontrak gitu ke adik saya. Kemungkinannya karena bargaining power yang lemah (statusnya numpang di rumah tante), kita yang kurang dekat—atau saya yang selalu sangat baik ke dia—, atau karena saya tidak menggalakkan kontrak itu dari awal. Kerasa banget saya tidak konsisten karena akhirnya mengalah dengan si adik karena gak enak hati bikin doi sedih atau marah. Lemah…. Haha.

2) Saya masih mikirin diri sendiri. Seringkali pulang malam, padahal nenek nungguin. Nenek harus tetap terjaga sampai saya pulang soalnya pintu dan pagar kudu digembok kalau malam, dan gada kunci serep. Pernah sekali nenek yang sudah tidur harus kebangun lagi untuk bukain pintu. Saya juga beberapa malam ansos di lantai dua, ngebiarin adik dan nenek nonton berdua saja di bawah. >.<

3) Saya cuma bisa kasih sayang yang murah. Saya orangnya baru bisa baik dan perhatian gitu pada tataran yang rendah, misalnya nganterin sekolah, beliin jus, atau nanyain ada PR gak. Tapi kalau soal menaklukkan si adik belum bisa dan masih ogah buat bantuin tugas domestik nenek, misalnya nyuci piring yang menumpuk habis masak.

Terbayang sedikit apa kabar keluarga yang saya akan pimpin nanti ya…  *halah* jika kepala rumah tangganya belum bisa menaklukkan anggota rumah tangga, jika saya belum bisa jadi partner yang responsif, jika saya masih mikirin diri sendiri, jika saya tidak punya cukup waktu untuk mereka karena saya masih belum selesai dengan urusan saya sendiri dan buruknya manajemen waktu saya???

Perbaikan diri musti dicicil segera.

Syukur dapat pengalaman jadi the only man in the family selama 9 hari ini (y)

Sistem yang Langgeng Harus Dibikin Gusar

Disclaimer: ini tulisan dangkal tanpa riset mendalam melainkan pengolahan sedikit pengalaman dan pengetahuan. Tulisan ini buat kamu orang di luar “sistem”.

*

Sistem adalah fokus perhatian seorang pengamat. Ada sistem, ada lingkungan, kalau di dunia termodinamika. Jika diketahui kalor mengalir dari sistem ke lingkungan, berarti kalor internal dan juga suhu sistem menurun. *sedikit nostalgia pelajaran fisika SMA jurusan IPA kelas 2 semester 2*

Sistem juga berarti sebuah kepaduan yang telah terbentuk. Sistem adalah sesuatu yang sudah jadi, ada, dan dipakai. Misalnya, sistem pendidikan, sistem pencalonan anggota legislatif, pencalonan pasangan calon ketua dan wakil ketua BEM, sistem kaderisasi, dan sebagainya. Dalam sistem terdapat aturan. Dalam aturan, tidak selalu terdapat reward, tapi pasti ada sanksi.

"Di luar sistem" bisa diartikan tidak berada atau menolak untuk "berada" di dalam sistem. Berada di dalam sistem, berarti mengikuti aturan main dalam sistem. Berada di luar sistem, berarti siap-siap tidak "dianggap" oleh sistem. Berada di dalam sistem, berarti siap didukung dan juga ditekan sistem. Berada di luar sistem, berarti bebas, berjuang (sendiri) tanpa sekat.

Dalam sebuah hegemoni *izinkan saya menggunakan kosakata ini*, di mana sebuah kelompok berterusan menjadi pemimpin di sebuah negara, daerah, kampus, atau organisasi, berlangsunglah sebuah sistem yang sulit dituding salah atau tidak optimal. Keberlangsungan kepemimpinan yang lama telah menggeser sebuah tingkat pemakluman atas performa sang pemimpin. Apatah lagi, pemimpin ini banyak pendukungnya dan terlihat bekerja.

Lihatlah kepemimpinan Soeharto… Saya rasa di era 80an, mayoritas rakyat Indonesia menikmati program pemerintah seperti swasembada beras. Jutaan PNS dan ABRI hidup makmur. Orang-orang tua buru-buru menyekolahkan anak meraka agar menjadi amtenaar atau tentara, biar ada kepastian finansial. Tidak heran jika pemeo “isih enakeun jamanku toh?” masih bisa ditertawakan. Di sisi lain, kita tidak tahu betapa “tidak efisien”nya perangkat kepemimpinan Soeharto. Baru setelah kita keluar dari kepemimpinan utopis itu, kita bisa melihat masih banyak kurangnya Soeharto and the gang di masa lalu.

Mengambil pelajaran dari kisah Zaman Soeharto tadi, saya berharap, orang-orang yang berada di luar sistem—dalam hal ini kampus—bisa berjuang mengeluarkan teman-temannya dari hegemoni yang pasti akan terus lestari bila tidak disaingi.

Mari, kita keluarkan diri kita dan kawan-kawan kita dari hegemoni yang ada. Tarik mundur dirimu selangkah untuk melihat lebih arif. Pemecahan rantai hegemoni harus dimulai, karena kita semua ingin keoptimalan yang riil, bukan yang relatif.

Salah satu kekurangan sistem yang langgeng adalah keterbatasan domain orang yang bisa dilibatkan. Dalam sistem ini, maka ada aturan kaderisasi. Cuma orang “lama” yang boleh berkuasa, melanjutkan cita-cita kelompok the incumbent. Padahal cita-cita mereka belum tentu (masih) sama dengan semua. Jika diibaratkan sebuah partai incumbent, cuma kader yang boleh maju jadi perwakilan. Sedangkan, orang-orang luar yang (lebih) baik sulit untuk maju karena sistem menghalangi mereka. Sistem yang established sudah menanamkan pagar yang tidak bisa dilewati orang luar. Dan hal yang terburuk saat keadaan tidak menawarkan pilihan kedua, kritisi cederung mati.

Warga dan rakyat harus diberikan pilihan kedua dan ketiga. Kalau cuma ada satu pilihan, berarti yang akan ada hanya golongan pro atau yang kontra (apatis). Ini kelemahan sistem calon tunggal. Katakanlah calon A menang dengan 55 persen suara, melewati syarat kemenangan. Tapi, ada indikasi 45% yang lain menolak dan tidak siap berpartisipasi. Makin banyak yang apatis. Jangan senang jika menang pas-pasan! Maka dari itu, teman-teman yang ada di luar sistem—karena menolak masuk atau ditolak—harus menawarkan PILIHAN KEDUA. Terutama buat kalian yang peduli, yang merasa tidak puas dengan kinerja “sistem”. Ketidakpuasan harus dilawan, karena kita hidup cuma satu kali.

Apa kita mau menceritakan kepasrahan kita pada keadaan ke anak-cucu kita nanti? Dimana semangat juang yang digadang-gadang saat ospeg? Dimana semangat juang yang kita telan bulat-bulat di rumah-rumah kita dulu?

Pada akhirnya cuma orang waras DAN peduli DAN sudah selesai dengan dirinya yang punya waktu untuk hal sekunder ini: kemaslahatan bersama. Tugas mendobrak hegemoni ini harus dimulai sekarang, tapi secara bijak. Apatah lagi kita yang sudah tahu koreng sistem yang ada… Semua yang kita tahu akan diminta pertanggungjawabannya.

Menolak hegemoni dengan bijak maksudnya pandai-pandai memosisikan diri. Sistem punya aturan. Sistem juga punya waktu untuk dievaluasi: sekali setahun jika di kampus dan lima kali setahun untuk Pemilu. Ada saatnya, kita, orang-orang luar, berhimpun untuk menjadi oposisi. Ada saatnya, kita, orang-orang luar, berhimpun untuk menjadi tandingan di pemilihan raya.

Sebelum masa pemilihan, jadilah oposisi yang cerdas dimana kritisi kita SELALU berdasarkan data dan perbandingan yang valid. Sentil “sistem” dengan wacana, diskusi publik, dan gerakan alternatif. Bikin mereka gusar. Mereka harus tahu, bahwa sistem mereka masih banyak lobangnya.

Saat masa pemilihan, inilah saat adu gagasan. Massa “partai” alternatif, boleh jadi belum besar. Tapi, di zaman ini, loyalitas bisa dikalahkan dengan akal sehat. Ini jamannya jualan ide, Bung! Siapkan amunisi untuk berperang di ruang publik. Cari simpati dengan cantik! Bagaimanapun, bila “sistem lama” membuka diri, tidak salahnya dipertimbangkan untuk masuk. Mulailah dengan audiensi. Karena koalisi bukan berarti kompromi.

Jika pada akhirnya “partai” kita kalah dukungan. Terimalah. Coba lagi tahun depan, atau lima tahun lagi. Berarti kita punya waktu untuk mematangkan persiapan, amunisi, dan penerus cita-cita kita… orang di luar sistem.

Sekali lagi, jika terbuka kesempatan masuk sistem, maka pertimbangkanlah… Boleh jadi dalam tawaran tersebut ada kesamaan visi dan keinginan orang sistem untuk memperbaiki diri. Boleh jadi juga ada peluang untuk membuka koreng hegemoni ini agar cepat kering, ha ha ha.

Poin lebih dari berada dalam sistem adalah adanya support system yang sudah jadi. Kekurangannya, gerak agak diarahkan. Poin lebih berada di luar sistem adalah lebih bebas. Tapi, PR besarnya adalah bagaimana membuat supporting system dan thinktank sendiri yang siap menemani kita menjalankan amanah jika ide kita terjual nanti.

Akhir kata, hegemoni tidak buruk tapi sistem yang langgeng harus dibikin gusarJangan-jangan banyak dari kita yang sudah apatis karena cuma ada satu opsi. Jangan-jangan akal sehat kita sudah mati—tidak bisa lagi mengkritisi keadaan.

Tags: politik kampus

fotokoran:

Memenang Indonesia oleh Rektor Paramadina.
(Sumber: Kompas)
*sayang baru sekarang masuk Kompasnya, Pak. Wacana memenangkan Indonesia ini harusnya dimulai sebelum Pileg kemarin :)

Orang baik harus terus &#8220;dikirim&#8221; ke dunia politik 5 tahun sekali&#8230; (y)

fotokoran:

Memenang Indonesia oleh Rektor Paramadina.

(Sumber: Kompas)

*sayang baru sekarang masuk Kompasnya, Pak. Wacana memenangkan Indonesia ini harusnya dimulai sebelum Pileg kemarin :)

Orang baik harus terus “dikirim” ke dunia politik 5 tahun sekali… (y)

(via syofarahalimah)

Counting Stars - OneRepublic

Lately, I’ve been, I’ve been losing sleep

Dreaming about the things that we could be

But baby, I’ve been, I’ve been praying hard,

Said, no more counting dollars

We’ll be counting stars, yeah we’ll be counting stars

I see this life like a swinging vine

Swing my heart across the line

And my face is flashing signs

Seek it out and you shall find

Old, but I’m not that old

Young, but I’m not that bold

I don’t think the world is sold

I’m just doing what we’re told

I feel something so right

Doing the wrong thing

I feel something so wrong

Doing the right thing

I could lie, couldn’t I, could lie

Everything that kills me makes me feel alive

Lately, I’ve been, I’ve been losing sleep

Dreaming about the things that we could be

Lately, I’ve been, I’ve been praying hard,

Said, no more counting dollars

We’ll be, we’ll be counting stars

I feel the love and I feel it burn

Down this river, every turn

Hope is a four-letter word

Make that money, watch it burn

Old, but I’m not that old

Young, but I’m not that bold

I don’t think the world is sold

I’m just doing what we’re told

I feel something so wrong

Doing the right thing

I could lie, could lie, could lie

Everything that drowns me makes me wanna fly

Lately, I’ve been, I’ve been losing sleep

Dreaming about the things that we could be

But baby, I’ve been, I’ve been praying hard,

Said, no more counting dollars

We’ll be counting stars

Take that money

Watch it burn

Sink in the river

The lessons are learnt

Everything that kills me makes feel alive

Tags: lyric life

"Mediocrity should not be tolerated for things that matter to you."

— M. Al Atiqi