Kisah Kerelaan

Aku ingin menelponmu saat ini juga, karena rindu suara malumu. Tapi kini kau sudah tidak bisa dihubungi kapan saja.

*

Aku ingin melontarkan twit-twit tanpa tujuan, yang cuma kamu paham itu untuk siapa dan mengapa aku menuliskannya.

*

Aku ingin bercerita panjang tentang kita di blogku. Tentang manis yang terlalu, katamu. Dan tentang akhir yang masih sekali waktu kita tanyakan mengapa.

*

Aku ingin mengganggu kamu yang sedang online seperti biasa, awal sederhana untuk obrolan serius yang liar ujungnya. Tapi, kita sudah berikrar kita akan baik-baik saja, bukan?

*

Karena kita bukan dua remaja yang menjadi orang lain setelah putus, aku ingin datang ke resepsimu, melihat senyum termanismu sebelum meneruskan jalanku.

*

Hijaumu sudah merelakan. Dan biru, jangan marah yah, aku pernah tidak sadar kamu kangen sebegitu. Kamu nggak bilang sih.

*

Begitu bodohnya aku yang menerima kata-katamu bulat. Padahal, di sana ada kesedihan yang pekat. Aku terlambat tahu bahwa kamu ingin selalu terlihat kuat.

*

Ah, masih saja kita bermain drama. Dua sahabat harusnya sudah menjadi ‘kita’ tanpa drama.

*

Terima kasih, kamu telah memilih orang lain setelah memperjuangkanku. Aku jadi teringat kapan terakhir kali aku memperjuangkan seseorang.

Tags: renungan

Starbucks dan Sego Bungkus Keliling

Siapa yang pernah mencoba kedua jenis jasa penyedia makan dan minum tersebut dalam judul di atas?

Saya baru saja hedon di Starbucks, kebetulan dapat uang jajan yang di-reimburse panitia. Sungguh sebuah kesempatan merasakan kemewahan, to try something that looks cool.

Saya hanya mantan mahasiswa langganan warung lalapan, warung pecel, mie ayam dan nasi goreng gerobakan. Saya hanya kaum pekerja biasa di Pulau Jawa.

Starbucks adalah Sebuah Kemewahan

Lepas maghrib, saya ditawari teman, sesama penjemput tamu luar negeri untuk konferensi ilmiah kami di Batu, makan sego bungkus pitungewuan, nasi bungkus 7000an. Seorang ibu dan anak lakinya berjualan nasi campur yang sudah dibungkus dan diikati karet. Ada yang lauknya ayam, ikan lele (?), dan bandeng, dll.. Ibu itu juga menjual beraneka minuman sebangsa kopi dan teh dengan bermodal dua buah termos air panas dan gelas-gelas plastik. Ibu menjajakan makanan dan minuman di dekat parkiran taksi bandara–tentu saja ini ilegal.

Kami menjemput para tamu yang turun di T2 Juanda Airport. Teman yang satu ini kebetulan lihat ibu-ibu dikerumuni supir pas parkirin mobil. Sayapun ikut makan bareng dia bersama 7-8 supir taksi bandara yang tampaknya sedang ngaso nunggu giliran narik.

Sebungkus nasi harganya 7000an, segelas kopi 2000an. Dua parameter ini sudah cukup untuk membandingkan kemewahan yang baru saja saya nikmati di Starbucks. Almond Croissant 20000 dan Green Tea Latte without whipped cream in venti size seharga 57000 (?). It’s good to experience yourself before commenting, comparing, or even criticizing foreign products, I thought. Sebenarnya saya ke Starbucks cuma karena mau internetan, butuh bikin slide yang bahannya dari blog jurusankuliah.tumblr.com.

Dari segi harga tentu agak sulit membandingkan Starbucks dan ibu penjual nasi bungkus keliling. Harga tentu sangat erat dengan modal dan daya tawar. Ibu itu modalnya simpel banget, the least cost possible. Coba bandingkan dengan bagaimana Starbucks telah investasi untuk interior, melatih dan menjaga standar pelayan, riset pasar dan perilaku konsumen, dan tentu saya kebutuhan teknis lainnya seperti microwave, coffee maker, blender, dan lainnya.

Lalu apakah ibu itu “berhak” menjual nasi bungkus seharga 10000 atau 15000? Itu namanya bunuh diri. Si ibu paham bahwa dirinya ada untuk menjawab sebuah masalah. Pasarnya (hanya) supir taksi dan supir travel yang pengen ngirit–butuh makan nasi, gorengan, ditemani kopi atau teh. Di sisi lain, Starbucks datang untuk menawarkan value dan user-experience. Kamu bisa dapatnya free wi-fi, nice “personal” service, soft cushion, cozy interior, dan tentu saja makanan khas Barat yang lumayan sedap. Jadi, dari model bisnisnya sudah beda.

Supply datang setelah demand untuk kasus pertama. Sedangkan Starbucks sebaliknya. Mereka yang datang ke ibu sego keliling karena tidak punya pilihan. Sedangkan, yang datang ke Starbucks karena punya pilihan. Beda.

Beyond Starbucks

Saya menemui obrolan di Starbucks lebih berisi, secara intelektualitas dan urgensi. Beda dengan makan di parkiran bareng supir atau bersama mahasiswa yang lagi rehat dari rutinitas. Tapi, mungkin kebetulan saja sih saya dapat “ngupingan” yang asyik punya di Starbucks tadi. Bagaimanapun, jarang saya dengar obrolan tentang politik, tren sosial, dan perubahan di warung-warung. Kalau tidak soal artis, urusan pribadi orang lain (baca: gosip), dan hal remeh seperti si anu berantem, si anu beli itu, dan si netron. Mungkin saja pengunjung Starbucks akan bergosip juga atau ngomongin instagram artis, tapi saya belum dengar.

Dahulu, inovasi dan ide besar muncul di warung-warung kopi (tapi bukan warkopnya orang Melayu seperti yang diceritakan Andrea Hirata). Mungkin dewasa ini juga masih begitu. Starbucks menawarkan keeleganan dan perasaan keren. A place does affect mood. When you are in the right place, you will behave, your mind will also “behave”. Duduk di trotoar sambil menikmati sego bungkus dan segelas plastik kopi susu hanya membuatmu meratapi nasib bersama debu di jalan dan baju kuyup keringat para supir–atau menghibur diri dengan gelak tawa di atas derita kawan sejawat yang ketiban sial. Singkatnya, kita membayar mahal untuk berada di dunia yang berbeda saat makan atau mengopi di Starbucks.

Buat kamu pebisnis muda, ini saatnya membuat tandingan Starbucks, karena kurang lebih kita sudah tahu alasan-alasan orang ke Starbucks. Buat kamu para penggiat diskusi, yuk mulai menciptakan tempat asyik yang membuat kawan-kawan ter-setting untuk mengeluarkan ide-ide mutakhir dan membicarakan hal besar yang signifikan. (They seem not to talk about poverty at places like Starbucks).

Bicara soal Starbucks maka kita harus menjabarkan sebuah model bisnis, bukan sekadar mengumpati harganya yang lima sampai 20 kali lipat lebih mahal dibanding harga warungan. Bicara soal Starbucks berarti mengamini bagaimana warkop berkelas punya peminat yang tidak sedikit saat ekonomi orang Indonesia membaik…sebagiannya–sebagian dari populasi berarti jutaan potential customers–, dan kamu bisa mengambil sebagian marketshare Starbucks dengan “iming-iming” user-experience yang tidak kalah keren, misalnya “kopi anak semua bangsa” atau “kantin (calon) negarawan”. Ada banyak isu yang bisa diambil untuk sebuah deliverable pemasaran sebuah warung kopi. Dan tolong jangan asal keren, karena dewasa ini masyarakat Indonesia makin (superficiallycritical dan pemasaran yang bagus adalah yang disertai narasi dan kurasi yang masuk akal dan bikin pelangga merasa keren.

It’s cool to feel good. It’s good to discuss cool stuff, more deeply and seriously.

(Source: muhammadbening.wordpress.com)

Tags: prosa opini

Senyum Terbaik

Cerita ini terinspirasi dari kisah nyata namun dibuat fiktif parsial supaya lebih wah.

*

Aku tiba tujuh jam lebih awal—ini jadwal kereta paling affordable untuk misi konyol ini. Kulihat kiri dan kanan peron satu Stasiun Besar Cirebon, cuma ada dua orang lainnya yang turun. Sepertinya mereka sepasang suami-istri yang memilih cuti mengunjungi orangtua mereka setelah peak session mudik Lebaran 2014 berakhir.

Aku tahu belum ada angkutan umum jam segini. Aku sudah menyiapkan Rumah Kopi Singa Tertawa oleh Yusi Avianto Pareanom untuk kubaca lagi dan tiga lagu pilihan refleksi masa lalu. Selama di kereta aku menyelesaikan satu buku lain—jangan tertawa karena aku memilih membaca sastra lama daripada ‘sampah’ yang umum dikonsumsi pengunjung toko buku besar—karya La Rose, Tak Semerdu Kata Hati.

Butuh sepuluh menit untuk mencari tempat yang pas buat ngemper dan tidak terlalu terang untuk membaca buku. Aku merebahkan punggung, bersandar pada tasku, di sebuah bangku panjang dimana aku masih bisa melihat jelas oleh orang-orang di Pos Keamanan stasiun.

Sudah pukul setengah empat pagi. Ini waktu yang paling khusyu selain sela antara Subuh dan terbit matahari, dan antara Maghrib dan Isya di bulan Ramadhan. Sudah tiga minggu aku menjalani ritual flashback sambil duduk di atas sajadah ini. Aku menyebutnya ritual melankolis akut. Mungkin cuma aku yang melakukannya di dunia ini.

Setelah salam, terdengar berisik penarik becak dari arah Tenggara. Gajayana baru saja berangkat lagi setelah beberapa menit berhenti di stasiun ini. Dengan muka dan rambut basah, aku menyapa Bapak kumisan dan berdagu mirip seorang politisi yang sedang diusir halus dari partai yang diketuainya, empat puluhan tahun, dan berseragam biru tua. “Pagi, Pak! Boleh tanya, kalau mau ke pantai dekat sini, bagaimana caranya ya, Pak?”

Informasi yang singkat dan padat darinya diakhiri dengan sebuah hoam’an yang bunyinya mirip mengorok. Aku punya cukup waktu untuk sampai di area Islamic Center sebelum acara dimulai.

Hoam. Sialan! Aku ikutan menguap gara-gara si Bapak mirip politisi itu.

Sebenarnya aku sudah cari jarak garis pantai terdekat dari stasiun ini dengan Google Maps, hanya seribu lima ratus meter. Sepertinya pertanyaanku tadi tidak spesifik. Bapak itu mungkin menawarkan info tentang cara ke pantai yang biasa dijadikan objek wisata. Andai saja aku bertanya, “Pak, bagaimana cara ke tempat terdekat dari sini, dimana saya bisa melihat laut?” Walau pertanyaan ini terdengar tidak efektif, ia menggambarkan dengan baik dan spesifik apa yang kumaksud.

“Pak, ke pantai berapa?” tanyaku sekenanya, sepertinya aku kurang spesifik lagi bertanya.

Penarik becak bermata cekung celinguk dua kali. Becaknya adalah satu-satunya yang ada di stasiun saat itu. Dia juga melihat sekilas perawakanku. “Lima puluh!”

“Hah? Tidak jadi,” aku menyengir.

Aku kembali ke rencana awal—I am on a thin budget—berjalan kaki ke garis pantai terdekat. Aku memutar daftar lagu yang sudah kusiapkan. Seperti biasa, aku (terlihat) menarik perhatian dengan ikut bernyanyi bersama bisikan earphones.

Seperti yang biasa kau lakukan, di tengah perbincangan kita. Tiba-tiba kau terdiam, sementara kusibuk menerka apa yang ada di pikiranmu…,”[1] momen semacam ini kerap terjadi pada perjumpaan-perjumpaan kami yang singkat. Seandainya dia mau bercerita lebih leluasa, seperti malam itu, ketika dia memberitahukan kabar gembira yang pangkalnya pahit itu.

Jalanan masih sepi. Sesekali lewat minibus putih berlabel yayasan.

Everything was fine the way it was. No more than ordinary. Then there was you so randomly too and now you’re staring at me. No one can choose who they fall far, when they fall or how they fall or why…[2] siapa sangka, semuanya bermula dari pertemuan yang sangat biasa.

Aku melihat kuning mulai merebak di arah bintang paling terang dini hari. Di pantai, aku tidak bisa melihat sunrise. Matahari malu-malu terbit di balik awan. Setelah belasan sapuan ombak pagi yang bau asin di kakiku, aku kembali berjalan menuju area Islamic Center, mencari tempat untuk membasuh badan dan bersalin pakaian. Aku tidak mau dia melihatku tampak kumal dan mengira aku telah bersusah-payah datang ke acara bahagianya pagi ini.

Aku memasuki aula utama komplek Islamic Centre pukul 8:15 WIB. Sengaja aku berlama-lama makan nasi dan empal gentong di seberang alun-alun. Memasuki ruang masjid, aku mengendap seperti siswa yang telat menghadiri pesantren kilat. Dari tempatku, terlihat wajah orang yang berani menemui Bapak-Ibunya awal tahun ini. “Sah!” Peralihan tanggung jawab itu cuma berlangsung kurang dari setengah menit. “Selamat, Hasna dan Yudi!” kataku dalam hati.

Ini dia momen yang kutunggu dan alasan utamaku kesini.

Hasna, teman dekatku—bukan mantan—, sebentar lagi akan muncul dari pintu selatan masjid. Hadirin menoleh ke arah pintu, menanti mempelai wanita keluar. Dalam keadaan hening, cuma Yudi yang sumringah. Sedangkan yang lain pasang muka menunggu. Sambil ikutan menoleh ke arah selatan, aku mengenang malam yang panjang saat Hasna menanyakan (kembali) perasaanku padanya selama ini, setelah dia mengirim softcopy undangan pernikahannya. Setelah malam itu, aku selalu menyempatkan diri mematut-matut diri pada akhir malam yang sepi.

Hasna keluar dan berjalan pelan. Dia malu-malu seperti matahari pagi ini. Sekilas dia melirik ke arahku. Aku melihat dia kaget, berhenti sejenak, dan menitikkan air mata. Aku membalasnya dengan senyum terbaikku dengan sebuket bunga matahari segar di tangan.

Pagi itu, waktu yang berjalan lambat kembali normal. Semuanya terbayar sudah, sebuah harga perpisahan yang mahal: senyum teman dekatmu yang pernah bilang kamu lelaki termanis yang pernah dia temui.

Kereta kembaliku ke Jogja, Taksaka Pagi, berangkat pukul 9:10 WIB. Ini alasan yang kuat untuk meninggalkan tempat akad cepat-cepat. Nanti aku ambil kereta malam menuju Malang yang dingin, dimana rindu jarang ditumpahkan langit.

Di kursi ruang tunggu stasiun, telepon selulerku bergetar. Ada pesan dari Hasna, “Itu kamu? Kapan sih kamu bisa berhenti?”

“Aku cuma mau melihat senyum terbaik seorang sangat kukenal.” Sent.

Keep your head up, keep your love…”,[3] lagu-lagu yang sama masih terus kuputar sampai baterai iPodku habis.

(*)

Referensi lagu:

1. Mari Bercerita (Payung Teduh feat Icha),

2. I Will Wait For You (US),

3. Stubborn Love (The Lumineers).

Tags: cerpen prosa

Negeri Naungan Awan

Awan menaungi mereka
Pasir dan uap air sama ringannya
Di tempat yang tinggi mereka memilih percaya
Mengalah pada kehendak masa dan kuasa
Memelihara cinta mereka pada Siwa

Hamparan itu seakan telah disiapkan
Mereka menata yang direlakan dari ketiadaan
Mereka membuat ramai dalam kesunyian
Bersama hembusan pasir dan awan

Kini tanah mereka jadi persinggahan
Tempat rehat yang lelah di perkotaan
Dimanapun kita, rezeki dariNya datang bukan?

Orang-orang Tengger yang dipelihara Tuhan
Terima salamku dari keramaian

Ingatkan kami selalu, memeluk yang satu dan memelihara rindu.

(*)

Malang, 30 September 2014

Dimana kita saat presiden kita dihujat?

Beberapa di antara kamu pernah dengar atau lihat bahwa tanda pagar #ShameOnYou SBY sempat jadi trending topic di Twitter—sebuah wadah microblogging yang akhir-akhir ini jadi idaman di antara sosial media lainnya dalam hal pencarian informasi. Beberapa di antara kamu baru saja tahu, atau tidak mau tahu.

#ShameOnYouSBY bisa diartikan dengan sederhana menjadi “memalukan kamu SBY”. Kenapa beliau harus di-“memalukan”?

Fenomena ini tentu berkaitan dengan pengesahan UU Pilkada beberapa waktu lalu. Perwakilan Partai Demokrat—dimana SBY jadi ketua umumnya—walkout saat pengambilan suara untuk pengesahan RUU Pilkada. Walkout itu sebuah sikap sadar, saya hargai itu. Para kader Demokrat juga punya alasan yang prinsipil untuk keputusan mereka ini.

Lalu, mengapa SBY jadi sasarannya?

Ini sebuah latah atau (maaf) kebodohan para netizen. Zaman sekarang begitu ringannya kabar “buruk” bergulir dan terpropaganda bersama kelatahan pengguna media. Para pengguna media merasa keren bila telah ikut berbagi pandangan terkait isu hangat arus utama yang sayangnya tanpa filter. Berita buruk dan baik sama saja. Malah ironisnya, berita buruk dan olok-olok menjadi jenis “berbagi pandangan” yang lebih seksi. Bisa dibilang sekarang itu mencaci menjadi keren.

SBY jadi kambing hitam pengguna media—atau dalam hal ini para buzzer sampah rasionalitas yang jadi biangnya—atas sikap yang diambil para kader demokrat. Betapa rentannya netizen Indonesia pada isu yang diangkat buzzer. Betapa dangkalnya sebagian netizen yang mengamini keterkaitan kinerja SBY dan sikap politik pada kader Demokrat, yang harusnya kita pikir terlebih dahulu, “Apa iya SBY pantas untuk disalahkan?” Lalu, jika iya, “Apakah cara mempermalukan beliau cukup ampuh?”

Olok-olok di media telah jadi budaya. *pahit memakai kata “budaya” di sini* Mungkin ini perkembangan dari Twitter dulu hanya sekadar digunakan sebagai tong sampah pribadi—mengumpati keadaan personal dan sosial. Di saat mengobrol politik itu seksi, maka para “pengumpat” ikut-ikutan pula.

*

Dari paparan singkat di atas, ada beberapa poin yang bisa saya rangkum untuk diamalkan setelah ini:

1) jangan latah dong, kita kan punya akal yang seharusnya digunakan untuk membedakan mana yang baik dan buruk, benar dan salah

2) rasional dikit dong, masa kita dangkal sekali mengaitkan hal-hal yang sekadar terdengar masuk akal

3) mari menggunakan media sosial lebih sering untuk hal-hal besar dan substansial, jangan latah dan sok keren ikutan arus utama

4) mari refleksi sebelum bicara, karena kita sungguh tidak berhak mengumpati seorang pemimpin yang telah mewakafkan waktunya untuk negeri ini sebelum kita sudah menjadi warga negara ideal seperti yang ada di pikiran kita

5) dan sudah saatnya kita membuat Twitter imun dari virus-virus yang disebar oknum, dan terakhir,

6) mari santun dalam berpendapat.

Tags: opini SBY

Boleh tahu siapa yang di sini ikutan ngetwit #ShameOnYouSBY di Twitter?

Starbucks dan Sego Bungkus Keliling

Siapa yang pernah mencoba kedua jenis jasa penyedia makan dan minum tersebut dalam judul di atas?

Saya baru saja hedon di Starbucks, kebetulan dapat uang jajan yang di-reimburse panitia. Sungguh sebuah kesempatan merasakan kemewahan, to try something that looks cool.

Saya hanya mantan mahasiswa langganan warung lalapan, warung tegal, mie ayam dan nasi goreng gerobakan. Saya hanya kaum pekerja…

View On WordPress

"What doesn’t kill you make you whine like a bitch."

— @FakeNTU

"Jangan mencintaiku diam-diam. Itu akan melukaimu dan aku tidak suka jika ada yang terluka karena ketidaktahuanku."

— Truegrey

(Source: truegrey, via kicaukukacau)

Tags: dream success